BERITA

👨🏼‍🏫 Berita adalah informasi terbaru mengenai kegiatan dan informasi penting lainnya yang ada di sekolah kami.

Gambar Berita

ASAL USUL CERITA JAKA POLENG DARI KABUPATEN BREBES

06 Des 2023
Berita
Agung Priyanto, S.Pd

Pendahuluan

Indonesia memiliki banyak sekali legenda dari masing-masing daerah, salah satunya adalah legenda Jaka Poleng dari Brebes. Menurut legenda, Jaka Poleng menjadi sosok pelindung yang dipercaya oleh masyarakat Brebes sejak jaman dahulu bahkan hingga sekarang. Di wilayah Brebes, legenda tentang Jaka Poleng ini cukup terkenal diceritakan oleh masyarakatnya.

Bagi masyarakat Brebes dan sekitarnya, Jaka Poleng adalah sosok yang tentu tidak asing lagi. Banyak masyarakat yang meyakini bahwa Jaka Poleng, pemuda abdi dalem pengasuh kuda salah satu bupati Brebes yang kemudian hilang wujud setelah menelan kulit ari ular yang ditemukannya saat sedang mengarit rumput, hingga hari ini masih hidup sebagai pengemong (pengayom) masyarakat Brebes. Padahal kejadian tersebut sudah lewat berabad-abad silam.

Pembahasan

Diceritakan bahwa Kanjeng Adipati Ariya Singasari Panatayuda I yang dikenal juga dengan sebutan Kanjeng Kyai Brebes, mempunyai seorang abdi dalem bernama Laksito (ada juga yang menyebutnya Ki Reja). Laksito atau Ki Reja ini bertugas untuk merawat kuda Kanjeng Kyai Brebes, termasuk memandikan dan memberinya makan.

Konon, Laksito sebenarnya adalah seorang pemuda sakti. Ia berasal dari Karawang, Jawa Barat, sama halnya seperti Kanjeng Kyai Brebes yang merupakan anak dari Patih Karawang, R. Singanagara. R. Singa Negara menikah dengan Nyai Raden Amsiah anak perempuan Bupati Karawang yang bernama Raden Adipati Aria Panatayuda. Laksito kemudian mengembara hingga sampai ke Brebes, menyeberangi sungai Pemali. Semenjak menyeberangi sungai Pemali itulah, kesaktian Laksito menghilang. Laksito kemudian berubah menjadi pemuda biasa.

Suatu hari, Kanjeng Kyai Brebes mengadakan pengumuman bahwa dirinya membutuhkan seorang abdi dalem untuk merawat dan mengasuh kuda pribadinya, Kyai Genta atau yang dijuluki pula dengan si Gambir. Dalam tradisi Jawa, sebutan kyai memang dilekatkan tidak hanya kepada orang yang dituakan atau dihormati namun juga kepada lainnya, termasuk benda-benda (seperti kereta kencana, gamelan) ataupun hewan-hewan milik raja-raja.

Laksito akhirnya mengajukan diri kepada Kanjeng Kyai Brebes dan kemudian diterima sebagai pengasuh si Gambir. Karena kinerjanya yang bagus, Laksito kemudian menjadi abdi kinasih (pembantu kesayangan) dari Kanjeng Kyai Brebes.

Suatu hari, dalam rangka mencari rumput untuk makan si Gambir, Laksito menemukan potongan kulit ari yang biasa ditinggalkan oleh seekor ular setelah proses ganti kulit. Tertarik dengan model kulit tersebut yang berwarna poleng (belang), Laksito kemudian mengantongi kulit tersebut dan lalu membawanya pulang.

Sepanjang perjalanan, Laksito mengalami keheranan. Ia yang memang grapyak (ramah), senantiasa tersenyum kepada siapa saja yang ditemuinya berpapasan. Mereka pun senantiasa akan membalas senyuman Laksito. Namun, tidak kali ini. Laksito bahkan merasakan jika semua orang yang dijumpainya, seperti tidak melihat dirinya.

Puncaknya hingga ia sampai ke Pendopo. Semua orang yang dijumpainya di Pendopo pun seperti tidak dapat melihat kehadirannya. Mereka hanya dapat mendengar suara Laksito. Hingga Pendopo pun menjadi geger. Laksito telah berubah menjadi suara tanpa wujud. Hal tersebut akhirnya sampai ke Kanjeng Kyai Brebes. Kanjeng Kyai Brebes pun kemudian menemui Laksito, meski ia sendiri tidak dapat melihat Laksito.

Kanjeng Kyai Brebes kemudian meminta Laksito menceritakan gerangan apa yang telah dialaminya. Setelah Laksito menceritakan semuanya, Kanjeng Kyai Brebes pun meminta Laksito untuk mengeluarkan kulit ari ular tersebut dari kantongnya dan diletakkannya di atas meja. setelah menuruti ucapan Kanjeng Kyai Brebes, wujud Laksito pun kembali nampak. Kanjeng Kyai Brebes akhirnya menyadari bahwa kulit ari ular tersebut memang memiliki tuah, yang jika dimilikinya akan menambah kesaktian dirinya.

Kanjeng Kyai Brebes pun meminta dan membujuk Laksito untuk memberikan saja kulit ari ular tersebut kepadanya, karena menurut Kanjeng Kyai Brebes, kulit ari ular tersebut tidak ada manfaatnya bagi Laksito dan justeru mungkin bermanfaat bagi dirinya. Laksito, yang memang sejatinya adalah orang sakti pula, menyadari jika sebenarnya kulit ari tersebut memang dijodohkan dengan dirinya. Ia pun menolak permintaan Kanjeng Kyai Brebes. Keduanya pun bersitegang memperebutkan kulit ari tersebut.Hingga, karena kalap demi mempertahankan kulit ari tersebut, Laksito memasukkannya ke dalam mulut dan menelannya semua. Laksito spontan merasakan panas di sekujur tubuhnya. Ia kemudian masuk ke dalam sumur yang berada di bagian belakang Pendopo, bermaksud mengademkan diri. Namun, apa lacur, setelah itu tubuh Laksito pun kembali menghilang. Dan kulit ari yang telah ditelannya, tidak dapat dikeluarkan kembali.

Kanjeng Kyai Brebes pun menyadari kekeliruannya dan begitu merasa menyesal. Ia akhirnya meminta Laksito untuk tetap mengabdi, namun untuk tugas yang lebih mulia lagi, yaitu mengayomi masyarakat Brebes. Laksito pun menerima titah tersebut. Dan hingga kini, Laksito yang kemudian dijuluki Jaka Poleng, masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Brebes masih hidup dan terkadang menampakkan diri dalam wujud seorang pemuda. Bahkan tempat tinggal Jaka Poleng yaitu sebuah kamar yang berada di dalam Pendopo Kabupaten Brebes, sampai sekarang masih setia dirawat layaknya kamar tersebut memang berpenghuni Nama Jaka Poleng sendiri diambil dari gabungan jaka dan poleng. Jaka artinya pemuda, dan poleng diambil dari sisik kulit ari ulang tersebut yang poleng atau belang.

 

Penutup

Sampai saat ini memang Brebes beranggapan Ki Jaka Poleng masih hidup, beberapa orang yang pernah melihat penampakan Ki Jaka Poleng dalam wujud satria gagah berwajah manusia berbadan ular, mitos masyarakat di pesisir Kali Pemali berkembang bahwa sebelum banjir datang Ular Jaka Poleng membendung hulu sungai Pemali kala sore sebelum banjir datang, agar sapi yang digembalakan di hutan dan irang – orang yang bekerja disebrang kali pemali bisa pulang dengan selamat.

Inilah legenda dari Kabupaten Brebes kisahnya turun temurun diceritakan dari waktu ke waktu, meski tak ada bukti autentik seperti Batu Malin Kundang tetapi kisah ini banyak mengandung manfaat dan tauladan lainnya, jika amanat itu sangat berharga dan tak ternilai, bahwa kekerasan dan pemaksaan kehendak akan selalu berakhir dengan keburukan. Kebanyakan orang tua di daerah Brebes akan melarang anaknya memegang sisik ular, takut akan bernasib sama seperti kisah diatas, seperti penulis yang mendapat cerita Legenda ini dari orang tuanya saat bertanya kenapa kita tidak diizinkan memungut sisik ular? Diceritakan Legenda Brebes. Jaka Poleng, selain alasan kesehatan.